Akibat Merahsiakan Kata..

Setelah hampir dua tahun, aku berjaya menyimpan kata dalam diri, tanpa mahu menulis apa-apapun di laman ini. Satu kezaliman tanpa sedar berlaku terhadap bakat anugerahNya, padaku. Ketika mahu memulakan kembali hari ini, kata-kata bagaikan lumut hijau yang melekat di dinding jiwa, sukar kupindahkan menjadi bait-bait yang bersinar. Aku kehilangan ketajaman, semangat dan rentak. Aku seorang penulis yang kalah dalam peperangan arah dan masa.
Aku bangkit lagi, tidak seperti hari-hari sebelumnya, segera kulumati kemahuan untuk membugar semula semak-samun di laman ini. Rumput-rumput panjang telah menenggelamkan minat para pembaca terhadap waktu rehat sang penulis. Tulisanku tidak bergerak, seakan dimasukkan dalam muzium kata dengan tujuan pameran semata-mata. Aku juga malu dengan pendeknya ransanganku terhadap sekeliling, sepertinya aku berkata kepada saudaraku yang sedang menangis sakit, “Oh, saya kasihan melihatmu. Semoga kesakitanmu segera sembuh.” Setelah itu, aku pergi dan tak menoleh lagi, sehingga aku terlupa apakah dia masih menangis atau bahagia. Dan cuma berkata, “Innalillah” atas kematiannya yang muncul di media sosial.
Begitulah aku selama tidak menulis. Aku mematikan jiwa yang baru tumbuh untuk belajar menginsafi apa-apa yang dicerlung mata, direnungi jiwa dan dinikmati akal. Tanpa menulis sebenarnya aku merehatkan akal suburku daripada bekerja keras. Aku bagai seorang ibu yang menyuruh anaknya hanya makan dan tidur, jangan berbuat hal yang lebih penting daripada itu walau sekelilingmu sedang berlaku kiamat-kiamat kecil. Akhirnya akal digemukkan dengan kemahuan bersenang-lenang, berlenggang-lenggok dan mati rasa. Seorang penulis yang kematian rasa adalah orang jahat yang berpura-pura menjadi imam masjid. Terus-menerus aku memabukkan diri dengan ‘sejarah lalu’ bahawa aku pernah menjadi penulis.
pagi ini, aku disergah ‘hidayah’ untuk segera masuk semula ke medan jihad. Yang memujuk aku adalah banyaknya buku-buku yang hadir sekelilingku, ditulis oleh manusia yang tidak celaru oleh simpang-siur waktu dan godaan. Mereka terus berperang dengan pena demi memandaikan anak-bangsa dan manusia. Mereka adalah penulis yang membaca dan tentulah pembaca yang menulis. Mereka tidak pernah merahsiakan kata yang mengungkapkan kesedihan, kebencian, kepedulian dan merangsang jiwa pembaca dengan kemanusiaan. Mereka tidak mabuk untuk berkata, “Saya sungguh sibuk sehingga tiada masa untuk menulis..”
![]()
You may also like
Archives
- June 2026
- August 2024
- June 2024
- May 2024
- March 2024
- June 2023
- April 2023
- March 2023
- January 2023
- November 2022
- October 2022
- August 2022
- August 2021
- July 2021
- June 2021
- May 2021
- April 2021
- February 2021
- January 2021
- November 2020
- October 2020
- September 2020
- August 2020
- July 2020
- June 2020
- May 2020
- April 2020
- March 2020
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |
| 29 | 30 | |||||
Categories
- AD IDEAS FAMILY
- AKADEMIK
- Akhbar
- Anak-anak
- Artikel Jurnal
- Buku Umum
- Cerita Korea Kami
- CERITA SAYA
- Ceritalah Bangladesh
- Ceritalah Indonesia
- Ceritalah London
- Cerpen
- DAKWAH & MASYARAKAT
- Drama Pendek
- Dunia Suami Isteri
- Falsafah Pengajaran
- KARYA KREATIF
- KRITIKAN SASTERA
- Majalah
- Media Sosial
- Meninjau Diri
- Meninjau Manusia
- Motivasi Menulis
- PEMIKIRAN ISLAM
- Pengajaran Dalam Kelas
- Puisi
- Temubual
- TRAVELOG UMMI HANI
- Uncategorized
- Video Travelog
Leave a Reply